Langsung ke konten utama

Selayang Pandang Olympic Furniture

Olympic Group

Olympic Group merupakan sebuah perusahaan induk yang memegang beberapa merek terkenal dalam industri furniture Indonesia, di antaranya Olympic Furniture dan Furnimart. Olympic Group memiliki 5 anak perusahaan dan memegang beberapa merek. Olympic Group dipimpin oleh komisaris utama sekaligus pendiri Au Bintoro dan memiliki kantor pusat di Kedung Halang, Bogor.

Logo Olympic Group

Awal pendirian

Bisnis Olympic Group diawali pada tahun 1980. Ketika itu, Au Bintoro merasa bahwa toko furniture terlalu membebani konsumennya dengan ongkos kirim yang begitu besar. Mahalnya ongkos kirim itu disebabkan karena beratnya produk furniture sehingga untuk mengangkatnya dibutuhkan beberapa orang pekerja, selain itu pengusaha furniture tidak dapat membawa banyak barang sekaligus—satu truk kecil hanya bisa mengangkut beberapa meja belajar saja—sehingga tidak efesien dan bukan tidak mungkin ongkos kirimnya lebih mahal dari harga meja itu sendiri.


Au yang ketika itu masih berprofesi sebagai pembuat box speaker memutar keras otaknya agar bisa menemukan meja belajar yang lebih praktis, ringan, dan bisa diangkut dalam jumlah yang lebih banyak dalam satu truk.


Au memiliki ide untuk membuat sebuah meja yang dapat dibongkar pasang (knock down). Dengan ide ini ia berharap pengangkutan meja jadi lebih mudah dan murah. Namun ia menemukan masalah, penggunaan kayu yang berat bobotnya menyebabkan timbul kesulitan membuat pasak-pasak yang cukup kuat untuk merekatkan bagian-bagian meja.

Ia kemudian mencoba-coba membuat meja dari bahan baku box speaker yang dimilikinya, dan ternyata sukses. Ia mampu menciptakan meja yang lebih kecil, ringan, dan mudah dibongar pasang. Meja belajar baru itu tersusun dari serpihan-serpihan papan partikel dengan perekat sekrup yang bisa di cucuk-cabut. Setiap bagian diberi tanda khusus untuk mencocokkannya dengan bagian lain. Ini mirip dengan mainan bongkar pasang anak-anak.[1]

Produk ini selain mudah dibawa ternyata juga memberikan keuntungan lain bagi penjualnya, yaitu memperkecil biaya gudang (storage cost) karena penjual hanya perlu merakit satu produk saja sebagai display, sementara produk yang digudang dibiarkan dalam keadaan terbongkar sehingga tidak memakan banyak ruang.

Walau begitu Au belum memiliki cukup nyali untuk menjualnya secara massal, dan lebih memilih untuk menjualnya berdasarkan pesanan. Suatu hari seorang konsumen memesan meja itu dalam jumlah ribuan. Setelah harga disepakati, pengerjaan meja itu dilakukan 24 jam tanpa henti agar selesai tepat waktu. Namun malang di tengah jalan order itu diputus secara sepihak. Akibatnya Au terpaksa menumpuk produk dan bahan baku yang tersisa di gudang. Setelah menunggu tanpa kepastian, Au nekad menjual meja pesanana itu ke toko-toko furniture. Ternyata meja-meja itu laku keras dan habis terjual.

Pada tahun 1983, Au benar-benar menekuni bidang furniture dan meninggalkan profesinya sebagai pembuat box speaker. Pada tahun 1986, Au meresmikan PT. Cahaya Sakti Multi Intraco yang khusus memproduksi meja.


Au menamai merek produknya “Olympic Furniture,” terinspirasi Olimpiade Musim Panas 1984 yang berlangsung di Los Angeles, Amerika Serikat.


Au mengutip ajang olahraga tersebut sebagai label dengan harapan Olympic dapat bergaung sehebat olimpiade yang terkenal di seluruh penjuru dunia. Inspirasi ini dikemudian hari menguntungkan Au karena konsumen lokal mengenalinya sebagai produk impor meskipun sebenarnya serpihan-serpihan perabot itu semuanya dibuat di Bogor dengan tenaga kerja lokal. Logo Olympic Furniture sendiri terilhami dari logo Olimpiade Musim Panas 1980 di Moskwa, Uni Soviet.



Krisis moneter dan perkembangan perusahaan saat ini


Pada tahun 1997, seperti kebanyakan pengusaha lain, Au mengalami goncangan dahsyat akibat krisis moneter yang melanda Indonesia ketika itu. Ongkos pembelian bahan baku membengkak dan karyawan menginginkan kenaikan gaji, sementara rata-rata 5 dari 10 konsumen membatalkan membelian. 


Bisnis Au mengalami masa-masa paling suram dan hampir semua rencana besar terbengkalai begitu saja. Gara-gara krisis pula Au terpaksa menjual separuh lahan beserta gedung di daerah Sentul, Jawa Barat yang awalnya direncanakan sebagai pusat produksi terpadu, mulai dari pengolahan kayu hingga penyelesaian kayu.


Au mendapatkan ide lain untuk mengatasi masalah ini. Bila sebelumnya ia hanya mengandalkan toko-toko furniture untuk menjual produknya, kini ia bekerja sama dengan peritel besar seperti Carrefour dan Giant.[1] Ia juga bekerjasama dengan gerai kredit Columbia agar konsumen lebih mudah mendapatkan dana untuk membeli produknya. Strategi ini berhasil mengembalikan penjualan Olympic ke tingkat semula.


Memasuki tahun 2003 ia menggandeng perusahan furniture asal Jerman, Garant Mobel International dan bersama-sama mendirikan Garant Mobel Indonesia (GMI) dengan 75% saham dimiliki Olympic. GMI bertindak sebagai pemberi hak waralaba yang menghubungkan pemasok dan para peritel mebel merek Garant asal Jerman, dan merek kelas atas milik Olympic Group.


Usaha ini menciptakan merek baru MER yang diwaralabakan. Kerja sama ini menjadikan Au sebagai peritel furniture pertama di Indonesia. Au juga mulai mengibarkan merek-merek baru untuk menguasai pasar, misalnya Solid Furniture, Albatros, Procella, Olympia, dan furniture berharga murah Jaliteng.


Anak perusahaan

Berikut daftar perusahaan yang dimiliki oleh Olympic Group:[5]

PT. Cahaya Sakti Furintraco

PT. Cahaya Saki Multi Intraco

PT. Furnimart Mebelido Sakti

PT. Cahaya Sakti Lintang Surya


Sumber;

https://id.m.wikipedia.org/wiki/Olympic_Group

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Pemalangan Adat, Aktivitas PT Cahaya Bintang Cendrawasih di Kabupaten Sorong Lumpuh

Inilah bahasa protes paling tua di Tanah Papua. Bukan dengan teriakan, tapi dengan batang pohon bambu. Gerbang biru PT Cahaya Bintang Cendrawasih kini terdiam. Di atasnya, tergantung batang pohon bambu dan kain merah. Bagi orang luar, ini hanya sebatang bambu. Bagi masyarakat adat, ini adalah hukum. Ini adalah palang.   Selama palang ini tidak dibuka oleh yang memasang, maka tidak ada aktivitas yang boleh berjalan di atas tanah ini. Inilah cara masyarakat adat berkata: Kami masih ada, dan tanah ini punya tuan

"Saya ada. Saya bangga."

Sahabat ZAN

 

Minasa Riboritta

    Siri' itu harga diri, kehormatan, malu untuk berbuat buruk. Itu falsafah hidup orang Makassar-Bugis. Mau sejauh apapun kau pergi, jangan kau jual Siri'mu.

Sorong Sebagai Kota "BERSAMA": Harapan bagi Para Pendatang

Sorong Sebagai Kota "BERSAMA": Harapan bagi Para Pendatang Sorong, sebuah kota di ujung barat Pulau Papua, telah lama menjadi pintu gerbang menuju keindahan Raja Ampat yang memukau. Namun, lebih dari sekadar persinggahan bagi wisatawan, Sorong adalah rumah bagi keberagaman budaya, etnis, dan tradisi. Sebagai kota yang terus berkembang, Sorong memiliki daya tarik unik bagi para pendatang yang mencari peluang baru dan kehidupan yang lebih baik. Keberagaman ini membuat Sorong menjadi potret mini Indonesia. Orang-orang dari berbagai daerah, seperti Jawa, Makassar, Maluku, hingga Flores, datang dan menetap, membawa serta budaya mereka. Interaksi ini menciptakan harmoni dalam perbedaan, dengan semangat gotong royong yang masih terasa kuat. Di pasar-pasar tradisional hingga lingkungan perumahan, para pendatang dan penduduk asli Papua hidup berdampingan, saling berbagi cerita dan kebiasaan. Namun, seperti kota berkembang lainnya, Sorong juga menghadapi tantangan. Urbanisasi yang pesa...

kurang satu tawa — tawamu

Aku merindukanmu bukan karena sepi... selalu terasa kurang satu tawa — tawamu. Bukit Teletubbies

Bersamamu, dimanapun jadi tempat terindah

  Bersamamu, dimanapun jadi tempat terindah Tak perlu peta, tak perlu arah Cukup kau di sampingku, dunia pun kalah Bising jadi lagu, resah jadi indah

SELAMAT & SUKSES MUSDA X KERUKUNAN KELUARGA SULAWESI SELATAN KOTA SORONG

Musyawarah Daerah (MUSDA) Kerukunan Keluarga Sulawesi Selatan (KKSS) merupakan momentum penting dalam mempererat silaturahmi dan memperkokoh kebersamaan warga perantau Sulawesi Selatan di Kota Sorong. Kegiatan ini tidak hanya menjadi ajang konsolidasi organisasi, tetapi juga wahana untuk memperkuat nilai-nilai persaudaraan yang telah diwariskan oleh leluhur kita. Dengan mengusung tema “ Kita Perkuat dan Perkokoh Semangat Persaudaraan (Sipakatau, Sipakalebbi, Sipakainge)”, MUSDA X KKSS diharapkan mampu menjadi ruang aktualisasi nilai luhur budaya Bugis-Makassar. Sipakatau mengajarkan kita untuk saling menghargai dan memanusiakan satu sama lain. Sipakalebbi menuntun kita untuk saling menghormati, menjunjung tinggi martabat, dan menjaga adab dalam berinteraksi. Sipakainge mengingatkan kita agar selalu menasihati dengan cara yang bijaksana demi kebaikan bersama. Ketiga nilai ini menjadi landasan kokoh untuk menjaga solidaritas, memperkuat persatuan, serta mempererat rasa kekeluargaan di te...

Dream it. Wish it. Do it

  Dream it. Wish it. Do it   Mimpikan itu. Harapkan itu. Lakukan itu

All About Lovin You

 Selamat Siang, Selamat Beraktivitas 💪